Sabtu, 11 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Kepribadian


ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN KPRIBADIAN


Pengertian

Kepribadian : Sikap dan perilaku yang menggambarkan diri individu secara utuh dan digunakan untuk menanggapi, berhubungan dan berpikir tentang diri dan lingkungan dalam konteks hubungan personal yg luas.

Gangguan kepribadian dapat diidentifikasi dgn sikap dan perilaku yg tidak fleksibel, mal adapatif, fungsi sosial dan pekerjaan terganggu.

Rentang Respon

Kepribadian sehat   gangguan ciri kepribadian    psikokosis

Kepribadian sehat : sikap dan perilaku individu yang dapat diterima oleh lingkungan tanpa mengganggu integritas dirinya

Gangguan ciri kepribadian : Suatu sikap dan perilaku yang tidak fleksibel, mal adaptif yang dapat mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan

Psikosis : suatu kondisi yang menunjukkan gangguan berat dengan ditandai gangguan kemampuan daya nilai realitas

Pembeda individu normal vs g3 kepribadian
  1. Adaptasi yang tidak fleksibel
  2. Lingkaran setan antara cara persepsi
  3. Kemampuan yang lemah
Pengkajian

1. Faktor Predisposisi
  • Tumbuh kembang : g3 dalam perkembangan persepsi, berpikir dan hubungan dengan orang lain
  • Hubungan dalam keluarga : Pola asuh dan interaksi dalam keluarga yang tidak mendukung proses tumbang
2. Faktor Presipitasi
  • Perpisahan/ kehilangan : orang berarti dalam waktu sementara/ lama (perceraian, kematian atau dirawat di RS
  • Penyakit kronis dan kecacatan : cenderung isolasi diri sehingga g3 pola hubungan
  • Sosial budaya : perubahan status sosek ( perusahaan bangkrut tau tinggal di tempat baru )
Perilaku dan Mekanisme Koping
  1. Jenis gangguan Skizoid : mekanisme koping isolasi
  2. Jenis gangguan Histerionik : mekanisme koping disosiasi,menyerang dan mengingkari
  3. Jenis gangguan Narsistik : mekanisme koping manipulasi, intelektualisasi
  4. Jenis gangguan Boderline : mekanisme koping marah, krisis
  5. Jenis gangguan Menarik diri : mekanisme koping isolasi
  6. Jenis gangguan Tergantung : mekanisme koping ketergantungan
Perilaku Terkait Gangguan Kepribadian

1. Kepribadian histerionik
  • Ciri pokok : sebagai suatu pola pervasif dari emosional dan mencari perhatian yang berlebihan.
  • Gejala : emosional tinggi, mendramatisasi diri, menarik perhatian, manipulatif, toleransi rendah, tidak rasional, tempentantrum, manipulatif, reaksi berlebihan pada stres
2. Kepribadian narsisitik
  • Tidak hangat, tidak responsive, terikat pada aturan (tertib, rapi), perfeksionistik, seriously (tidak dapat rileks, tertawa dan menangis ), hubungan sosial terbatas.
3. Kepribadian borderline
  • Sukar membina hubungan sosial dan personal, depresi, mengeluh perasaan bosan dan hampa, tidak percaya pada orang lain, perasaan sepi, sangat sensitif terhadap penolakan, tidak mampu mengatasi cemas dan frustasi, kontrol diri kurang
4. Kepribadian tergantung
  • Tidak mandiri, orang lain yang mengambil keputusan tentang dirinya, kurang percaya diri, vitalitas dan mobilitas kurang
5. Kepribadian Kompulsif
  • Tidak hangat, tidak responsif, terikat pada aturan (tertib,rapi ), perfeksionistik, seriusly ( tidak dapat rileks, ketawa & amp; menangis), hubungan sosial terbatas
6. Kepribadian menarik diri / menghindar
  • Hiperaktif pada penolakan, menghindari hubungan sosial kecuali dengan jaminan (diterima dan tidak dikritik), menarik diri, temannya terbatas, harga diri rendah, gelisah dan malu jika berbicara dengan orang lain, ingin dikasihani & amp; diterima
7. Kepribadian pasif-agresif
  • Menolak tuntutan untuk berpenampilan adekuat (sosial, pekerjaan), penolakan tidak diungkapkan dengan langsung (menangguhkan, buang2 waktu dan pelupa)
8. Kepribadian schizoid
  • Emosi dingin dan tidak peduli, tanpa kehangatan dan kelembutan, tidak dapat membedakan pujian, kritik pada perasaan orang lain, menolak kontak mata, menghindari komunikasi spontan, tidak tertarik dengan lawan jenis, pikiran paranoid, pikiran magis & masalah komunikasi
Diagnosa Keperawatan
  1. Kerusakan interaksi sosial : isolasi sosial
  2. Gangguan alam perasaan : depresi
  3. Gangguan hubungan dengan orang lain : dependent
  4. Gangguan hubungan dengan orang lain : manipulatif
  5. Isolasi sosial
  6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
  7. Resti amuk
  8. Resti merusak diri
Intervensi Keperawatan

Tujuan umum :
  1. Mencegah terjadinya gangguan jiwa berat
  2. Membantu mengembangkan kemampuan hubungan sosial
  3. Mendorong partisipasi keluarga dalam merawat klien
Implementasi Keperawatan

1. Kepribadian Histerik
  • Bekerja sama dengan klien dan keluarga
  • Terapi perilaku untuk membantu pencapaian tumbang
  • Bantu orang tua untuk mendisiplinkan anak
  • Bantu anak beradapatasi dalam kelompok
  • Respon perawat untuk dipengaruhi gender
2. Kepribadian narsistik
  • Bantu klien mengemembangkan harga diri yang kuat
  • Fasilitasi ledakan rasa marah dan bermusuhan
  • Tanggapi setiap perilaku klien
  • Beri penjelasan singkat, jelas dan terbatas
  • Bantu klien menyadari perasaan, kemampuan dan keterbatasannya
  • Tetapkan harapan yang jelas, konsisten & amp; mantap
  • Bantu klien melepaskan diri dari pengalaman yang menyakitkan
  • Beri umpan balik perilaku klien
  • Libatkan dalam terapi kelompok
  • Lakukan terapi keluarga
3. Kepribadian Borderline
  • Ciptakan lingkungan yang terapeutik
  • Kerja sama dengan klien dan keluarga
  • Lakukan kontrak dengan klien dalam pencapaian tujuan
  • Hindari tawar menawar
  • Gunakan contoh peran, teknis reinforcement
  • Konfrontasi perilaku klien yang tidak sesuai
  • Identifikasi perilaku destruktif & amp; pantau perilaku regresi penanganan segera
  • Identifikasi kebutuhan klien yang membutuhkan
  • Libatkan dalam terapi kelompok
  • Berikan terapi dengan tepat
4. Kepribadian Tergantung
  • Rancang batasan usia yang sesuai dan konsisten
  • Libatkan keluarga dan orang terdekat
  • Hindari perilaku balas dendam dan tekankan tanggung jawab terhadap perilaku, pikiran dan perasaan
  • Beri kesempatan untuk mengontrol kehidupan perilakunya
  • Tunjukkan penerimaan/ pengakuan terhadap keputusan klien
  • Tetap beri informasi tentang kegiatan terapi
  • Arahkan klien pada pemikiran rencana masa depan
5. Kepribadian Kompulsif
  • Ekspresif psikoterapi
  • Diskusikan efek stress dan beri saran
  • Cegah ketidak jelasan
  • Beri penekanan pada kebutuhan dengan contoh konkrit
  • Strategi perilaku dan kognitif sangat berguna
  • Terapi kelompok untuk orang tua dan keluarga
6. Kepribadian Menghindar
  • Bina hubungan saling percaya
  • Bantu klien menerima kritik orang lain
  • Bantu klien mengkritik diri sendiri
  • Bantu klien agar keluar dari lingkaran kritik dengan mengkonfrontasi kesepiannya
  • Bantu klien untuk sosialisasi dan mendapat teman
  • Beri reinforcement akan kemampuan yang telah dimiliki klien
7. Kepribadian Pasif – Agresif
  • Beri batasan perilaku dan lingkungan
  • Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan secara konstruktif
  • Beri kesempatan berpengalaman dalam kelompok
  • Tingkatkan hubungan sosial
  • Lakukan terapi perilaku
8. Kepribadian Skizoid
  • Lakukan kontrak P – K
  • Tingkatkan sosialisasi
  • Hindari isolasi dan perawatan institusional
  • Libatkan dalam terapi okupasi dan terapi kelompok
Evaluasi
  1. Klien mampu berhubungan dengan orang lain secara efektif
  2. Perilaku klien merefleksikan kemampuan dalam hubungan : percaya, terbuka dan kerja sama
  3. Sumber koping

Jumat, 10 Desember 2010

PSIKOFARMAKA


Friday, March 27, 2009
Kadang kita bingung jika melihat banyak obat yang harus dimakan oleh klien gangguan jiwa, sehingga dibutuhkan informasi yang jelas bagi klien maupun perawat yang akan memberikan sediaan psikofarmaka.

Banyak macam jenis sediaan obat dalam psikofarmaka, sehingga sangat diperlukan kewaspadaan dalam hal pemberian dan pengawasaannya.

Dibawah ini diuraikan macam dan jenis obat serta kewaspadaan dalam hal pemberian obat dan obat-obatan yang sering dipakai dalam penanganan klien gangguan jiwa...


Psikofarmaka adalah obat – obatan kimia, yaitu obat – obatan psikotropika, yang dapat mempengaruhi bagian – bagian otak tertentu dan menekan atau mengurangi atau menghilangkan gejala – gejala tertentu pada penderita.
Gejala tersebut meliputi : yang berhubungan dengan proses pikir, berhubungan dengan alam perasaan dan emosi, dan perilaku (behaviour), penghayatan pribadi manusia

Macam –macam psikofarmaka :
1. Golongan anti psikotik
2. Golongan anti cemas
3. Golongan anti depresi
4. Golongan anti maniak

Cara pemberian obat;
• P O (per oral)
• DROP(Bentuk tetes)
• Injeksi IM , IV

Menurut dosis paruhnya obat psikotropika diberikan Long term atau short term,obat longterm diberikan secara injeksi IM
Jenis – jenis sediaan obat
Golongan anti psikotik :Obat-obat jenis ini digunakan untuk menghilangkan gejala psikotik seperti waham dan halusinasi ,penghayatan diri.Untuk obat jenis konvesional biasanya hanya mampu menghilangkan gejala psitip saja, tetapi obat jenis atipkal bisa menghilangka gejala positip dan gejala negatip.

1. chlorpromazine (promagtil,largagtil)
2. haloperidol(haldol2mg,5mg)
3. trifluoperazine (stelasin 2mg 5mg)
4. perphenazine
5. fluphenazine
6. thioridazine(meleril)
7. pimozide
8. clozapine(clozaril)
9. sulpirideh
10. risperidone(Persidal)
11. quetiapine
12. olanzapine
Golongan anti cemas 
Obat ini memberi kasiat menghilangkan rasa cemas melalui penguatan inhibitor GABA (gama acid amino biturat).

Sehingga obat ini akan memberi terapi pada kasus- kasus:
• Gangguan cemas umum
• Cemas karena stress
• Gangguan tidur
• Phobia
• Cemas karena PTS
• Cemas dengan kondisi medik
• Cemas karena tindakan medis
• Gangguan kejang
• Histeria

Macam -macam obatnya :
1. Diazepam(Valium,Valisanbe,Validex)
2. Chlordiazepoxide(Cetabrium)
3. Alprazolam(Atarax,Xanax)
4. Clobazam
5. lorazepam (Ativan)
6. buspirone
7. hidroxyzine
8. bromazepam
Golongan anti depresi 
Obat –obat ini sangat bermanfaat untuk pengobatan gejala depresi seperti mutisme ,hipoaktif dan disforik,.Disamping itu bisa untuk mengobati keadaan panic,enurises,pada anak dengan gangguan perhatian,bumilia narkolepsi dan ,obsesi kumpulsif.Tiga jenis obat anti depresan yaitu Golongan Tricyclik,selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI),monoamine oksidase inhibitor

Macam –macam obat anti depresan.
1. Amitriptyline(trilin}
2. Imipramine
3. Clomipramine
4. Fluoxentine(Kalcetin)
5. Srtraline(Fridep)
6. Amoxapine
7. Moclobenide
8. Citalopram
9. Duloxetine
10. Venlafaxine
11. Maprotiline
12. Fluvoxamine
13. Mirtazapine
14. Paroxetine
15. Tianeptine
16. Mianserine
Golongan anti maniak :obat-obat ini berguna untuk menghilangkan gejala manik seperti logorhoe,hiperaktive euforia
1. Lithium carbonte
2. Carbazepine
3. haloperidol
KEWASPADAAN PERWAT;
Dalam memberikan terapi psikofarmaka sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu perwat harumewaspadai setelah obat masuk kedalam tubuh pasien ,Sebagai berikut:

Kewaspadaan pada Obat anti psikotik;
• Kebutuhan individu sangat bervariasi
• Gejala akan mereda setelah diberi obat 3hari sampai 2 minggu
• Beberapa jenis skizofrenia butuh obat sepanjang hidupnya
• EPS dan diskinesia Tardif bisa terjadi sebagai efek samping.
• Terjadinya efek agranulosis
• Obesitas

Obat anti depresan:
• Obat anti depresan bisa letal pada dosis yang berlebih
• Efek mengantuk
• Mulut kering

Obat anti mania :
• Lithium karbonat sangat toxik dan lethal oleh sebab itu perlu pemantauan ketat setiap waktu tertentu diperiksa laborat kandungan garam litium dalam tubuh pasien
• Carbamecepim dapat menimbulkan steven jhonson

Obat anti cemas :
• Efek adiksi sangat kuat
• Efek mengantuk
• Masalah –masalah memori
MENGATASI EFEK SAMPING OBAT
 Untuk adanyanya gejala EPS diberikan injeksi Diphenhydramin 2 cc dan sulfas atropin 1ampul
 Untuk adanya timbul adiksi dilakukan tapering off
 Untuk efek sedasi diberi nasehat tidak boleh menjalankan mesin
 Untuk mencegah adanya diskinesia tardive dengan hati-hati pemberian dosis yang meningkat terutama obat anti psikotik
 Untuk mendeteksi ambang letal di periksa laborat tiap 3 bulan

Hemofilia devinisi

Hemofilia
Definisi
Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembeku darah yang
disebabkan oleh kerusakan kromosom X. Darah pada penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan
sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah berjalan amat lambat, tak seperti mereka yang
normal.
Normalnya ada 13 faktor pembekuan darah, penderita hemofilia kekurangan faktor VIII dan IX.
Hemofilia terbagi atas :
Hemofilia A
 Merupakan hemofilia klasik dan terjadi karena defisiensi faktor VIII. Sekitar 80% kasus
hemofilia adalah hemofilia A.
Hemofilia B
 Terjadi karena defisiensi faktor IX. Faktor IX diproduksi hati dan merupakan salah satu faktor
pembekuan dependen vitamin K. Hemofilia B merupakan 12-15% kasus hemofilia.
Gejala dan tanda
Tanda khas pada hemofilia adalah hemartrosis, yaitu perdarahan pada sendi-sendi besar (lutut, siku
tangan, pergelangan kaki) yang terasa nyeri dan bengkak sehingga menyebabkan sendi tidak dapat
digerakkan. Bisa muncul karena benturan ringan atau timbul sendiri. Selain itu sering timbul
perdarahan di bawah kulit dan otot.
Berdasarkan derajatnya, hemofilia terbagi atas:
 hemofilia berat, jika faktor pembekuan darah kurang dari 1%
 hemofilia sedang, jika faktor pembekuan darah antara 1-5%
 hemofilia ringan, jika faktor pembekuan darah antara 6-30%
Hemofilia ringan gejalanya hanya berupa darah lama membeku setelah cabut gigi, operasi atau saat
terluka. Hemofilia berat, 90% sudah dapat didiagnosis pada usia di bawah 1 tahun.
Diagnosis
Diagnosa hemofilia ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Misalnya terdapat
riwayat biru pada kulit, perdarahan kulit dan sendi. Biasanya ditemukan saat anak dikhitan, dan
perdarahan tak kunjung berhenti (minimal usia 5 tahun), saat anak imunisasi atau anak periksa darah.
Pemeriksaan penunjang
 Pemeriksaan kadar faktor VIII dan IX
 Pemeriksaan PT dan APPT.
Pengobatan
Terapi yang tepat dapat menjamin anak tumbuh normal dan produktif di masa dewasa. Pencegahan
(profilaksis) dilakukan dengan melakukan transfusi seminggu sekali. Namun, jika anak mengalami
perdarahan dapat dilakukan replacement.
Terapi terbaik bagi anak hemofilia adalah transfusi atau injeksi darah yang mengandung faktor
pembekuan (faktor VIII atau IX). Pemberian transfusi rutin berupa kriopresipitat-AHF untuk penderita
hemofilia A dan plasma beku segar untuk penderita hemofilia B. Transfusi dan obat biasanya diberikan
secara rutin setiap 7-10 hari.
Namun perlu diwaspadai, melalui transfusi, anak hemofilia menjadi rentan terkena penyakit yang
ditularkan lewat darah, seperti hepatitis B, C, bahkan HIV.
Pencegahan
 Hindari trauma
 Hindari mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi kerja trombosit yang berfungsi
membentuk sumbatan pada pembuluh darah, seperti asam salisilat, obat antiradang jenis nonsteroid,
ataupun pengencer darah seperti heparin.
 Kenakan tanda khusus seperti gelang atau kalung yang menandakan bahwa ia menderita
hemofilia.
 Hal ini penting dilakukan agar ketika terjadi kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, personel
medis dapat menentukan pertolongan khusus.

Hemofilia Diturunkan Dari Ibu



M eski diturunkan dan berlangsung seumur hidup, tapi tak usah khawatir. Penderita hemofilia tetap bisa hidup normal dan bahkan berprestasi. Yang penting, lakukan pengobatan secepatnya.
Tomi, 8 bulan, sedang lucu-lucunya. Ia mulai senang menjelajah isi ruangan dengan merangkak. Suatu ketika, karena kelamaan merangkak, lututnya bengkak dan membiru. Orang tuanya baru curiga ketika bengkak tersebut tak kunjung sembuh. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan Tommy menderita hemofilia atau penyakit gangguan pembekuan darah.
Bagi kebanyakan orang, hemofilia mungkin terasa asing. Kendatipun setiap 17 April diperingati sebagai World Haemophilia Day  atau Hari Hemofilia se-Dunia. Menurut catatan WHO, 1 dari 10 ribu anak lelaki di dunia menderita penyakit gangguan pembekuan darah ini. Namun begitu, penyakit ini bukan hanya menyerang anak lelaki, tapi juga anak perempuan. Pasalnya, seperti dikatakan Prof. Dr. S. Moeslichan Mz.  dari Bagian Hematologi Anak FKUI-RSUPNCM, penyakit ini diturunkan dari ibu.
KERUSAKAN KROMOSOM X
Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa, kok, dari ibu? Apalagi jika si ibu ternyata bukan penderita hemofilia, melainkan suaminya yang menderita penyakit tersebut. Soalnya, pada hemofilia terjadi kerusakan kromosom X. Bukankah kromoson pada ibu adalah XX, sedangkan pada ayah adalah kromosom XY? "Jadi, hemofilia ini numpang lewat melalui ibu, lalu turun ke anak lelaki," terang Moeslichan seraya melanjutkan, "Bila turun ke anak perempuan, maka anak perempuan ini akan menjadi pembawa sifat."
Dengan demikian, bila suami penderita hemofilia sedangkan istrinya normal, maka turunnya ke anak perempuan sebagai pembawa sifat. Tentunya, karena merupakan faktor turunan, maka datangnya penyakit ini memang tak bisa dicegah. Jika si ibu merupakan pembawa penyakit, maka anak lelakinya secara otomatis akan menjadi penderita hemofilia, meskipun kemungkinannya 50 persen. "Anak perempuan dari ibu pembawa hemofilia juga 50 persen akan menjadi pembawa hemofilia."
Disamping faktor keturunan, ternyata hemofilia bisa juga terjadi lantaran mutasi. Dengan demikian, seperti dikatakan Moeslichan, "mungkin saja ayah dan ibunya tak membawa turunan hemofilia, tapi tiba-tiba ada mutasi pada si ibu sehingga si anak kemudian mengidap hemofilia." Jadi, hemofilia karena mutasi ini munculnya secara spontan. Mutasi bisa terjadi karena berbagai faktor yang terdapat di alam seperti radiasi, polusi, virus, perubahan ozon, dan sebagainya.
KEKURANGAN FAKTOR VIII DAN IX
Lebih jauh dijelaskan oleh Moeslichan, kerusakan kromosom X menyebabkan yang bersangkutan mengalami kekurangan faktor pembekuan. "Di dalam darah itu, kan, terdapat sel berbentuk kental dan bening," jelasnya seraya melanjutkan, "Pada sel berbentuk kental ada yang namanya sel darah merah untuk membawa oksigen atau tenaga, sel darah putih untuk menangkal penyakit, dan butir-butir trombosit untuk menghentikan perdarahan jika pembuluh darah bocor." Sedangkan pada sel berbentuk bening terdapat faktor-faktor pembekuan sebanyak 13.
Bila faktor I ada, maka proses pembekuan berlanjut ke faktor II, faktor III, dan seterusnya sampai faktor XIII. Nah, dua di antara 13 faktor tersebut, yaitu faktor VIII dan IX, bila salah satunya tak ada atau kurang, maka faktor selanjutnya sampai XIII akan kekurangan juga. "Jadi, bila salah satu dari faktor VIII dan IX ini kurang, maka darah tak akan bisa membeku. Inilah yang disebut hemofilia," terang Moeslichan.
Kekurangan faktor VIII disebut hemofilia A dan kekurangan faktor IX disebut hemofilia B. "Yang paling parah jika terjadi kekurangan faktor VIII atau hemofilia A," lanjutnya. Perlu diketahui, 1:16 ribu penduduk dunia menderita hemofilia. Sekitar 20 persennya adalah penderita hemofilia B. Jadi, penderita hemofilia A jauh lebih banyak ketimbang penderita hemofilia B. Padahal, justru hemofilia A-lah yang lebih parah.
KEMATIAN USIA DINI
Karena hemofilia merupakan penyakit gangguan pembekuan darah, maka perdarahan akan sukar berhenti bila si penderita mengalami luka. Tak demikian halnya pada orang normal, perdarahan umumnya akan berhenti sendiri. Disamping itu, biasanya terjadi juga perdarahan di dalam otot dan sendi sehingga si penderita sukar berjalan dan merasa sakit. Ada beberapa stadium hemofilia, seperti diterangkan Moeslichan, yaitu ringan, sedang, dan berat. "Bila tak terkena pukulan keras, penderita tak apa-apa."
Tapi pada penderita hemofilia A bisa saja mengalami perdarahan spontan. Namun demikian, terlepas dari berat-ringannya, penderita hemofilia harus segera ditolong. Kalau tidak, bisa menyebabkan kematian usia dini atau cacat anggota geraknya (cripple) . "Bila mengalami kecacatan tentunya jadi beban di masyarakat, kan?" ujar Moeslichan. Karena untuk berjalan saja, si penderita tak mampu sehingga harus memakai kursi roda. Tapi bila secepatnya ditolong, "ia akan bisa segera diobati dan menjadi warga masyarakat yang tak cacat, mencapai usia yang tidak berbeda dengan warga masyarakat lain, dan mampu berprestasi," lanjutnya.
Jadi, Bu-Pak, bila si kecil mengalami luka dan perdarahannya tak juga berhenti, segeralah bawa ke dokter. "Harus dipikirkan kemungkinan hemofilia!" tegas Moeslichan. Apalagi selain perdarahan, bila lututnya terbentur akan membiru dan terasa kaku. Anak juga mengeluh sakit tulang, sakit sendi, dan ototnya. "Bila itu terjadi pada anak lelaki, orang tua harus mengingat kemungkinan hemofilia. Nanti dokter akan memeriksa apakah anak memang terkena hemofilia," lanjutnya.
Biasanya hemofilia sudah bisa diketahui sekitar usia 6 bulan ke atas, "karena di atas usia tersebut, anak, kan sudah mulai aktif merangkak ke sana ke mari sehingga bisa terjadi kecelakaan seperti terjatuh atau terbentur," terang Moeslichan. Nah, pada saat itulah Bapak dan Ibu harus waspada bila sang buah hati terluka namun perdarahannya tak kunjung berhenti.
PENGOBATAN SEUMUR HIDUP
Tentunya, karena hemofilia merupakan penyakit yang diturunkan, maka seumur hidupnya anak akan tetap menderita penyakit ini. Tapi, toh, Bapak dan Ibu tak perlu cemas karena si kecil tetap bisa menjalani hari-harinya sebagaimana teman-teman sebayanya yang tak menderita hemofilia. Ia pun bisa berprestasi tak kalah hebat dengan anak normal. Yang penting, si kecil segera mendapatkan pengobatan. "Penderita hemofilia A diobati dengan diberikan cryopresipithate,  sedangkan hemofilia B dengan fresh frozen  plasma," jelas Moeslichan. Cryopresipithate  adalah faktor VIII yang diambil dari darah.
"Darah dapat dipilah-pilah. Darah merah untuk pasien thalassemia, trombosit untuk pasien leukimia, dan plasma untuk pasien lever. Nah,cryopresipithate  yang banyak mengandung faktor VIII untuk pasien hemofilia," lanjutnya. Namun pengobatan hemofilia tergantung juga pada berat badan dan kondisi anak. Umumnya, rata-rata penderita hemofilia A membutuhkan 4 sampai 15 kantung cryopresipithate  per minggu, sedangkan penderita hemofilia B membutuhkan sekitar 2 sampai 4 kantung fresh frozen  plasma.
Satu kantung cryopresipithate  berisi sekitar 30 cc, sementara satu kantung fresh frozen plasma ada yang berisi 120 cc, 170 cc, atau 200 cc. Pemberian cryopresipithate dilakukan seminggu 2 kali menurut aturan dan berlangsung seumur hidup. Dengan demikian, penderita hemofilia tentunya membutuhkan banyak bantuan dari para donor. Itulah mengapa, setiap 17 April dunia memperingatinya sebagai World Haemophilia Day, sebagai salah satu bentuk ucapan terima kasih para penderita kepada donor yang tak mereka kenal.
Selain juga, memberikan informasi kepada para penderita hemofilia agar mau berkonsultasi ke pusat-pusat pelayanan kesehatan. Dengan Hari Hemofilia Sedunia diharapkan masyarakat luas juga bersedia menjadi donor darah sukarela. "Apalagi menurut WHO, pengobatan hemofilia di suatu negara akan seimbang dengan prestasi kerja mereka," ujar Moeslichan. Tentu saja, terlepas dari berprestasi atau tidak, kita memang punya kewajiban untuk menolong sesama, bukan?  
JANGAN TERLALU PROTEKTIF KENDATI SI KECIL MENDERITA HEMOFILIA
Kebanyakan orang tua cenderung akan bersikap penuh perlindungan bila mengetahui buah hatinya menderita sesuatu penyakit tertentu yang tak bisa disembuhkan. Bahkan, ada orang tua yang sangat ketakutan sampai-sampai anak disenggol saja pun enggak boleh. Padahal, sikap demikian sungguh keliru. "Orang tua sama sekali tak dibenarkan bertindak terlalu protektif pada anak karena akan mengganggu tumbuh kembang anak," tegas Moeslichan.  
Jadi, Bu-Pak, perlakukanlah buah hati Anda secara wajar. Ia berhak, kok, menikmati kehidupan ini sebagaimana anak-anak normal. Misalnya, ia boleh berolah raga namun yang sederhana semisal bersepeda atau renang. "Olah raga yang dilarang adalah tinju dan main bola karena kedua jenis olah raga ini memungkinkan untuk terjadinya benturan keras," terang Moeslichan.
Tentunya, yang terpenting ialah anak harus mendapatkan pengobatan yang terbaik agar ia bisa tumbuh sewajarnya dan berprestasi. Sebagai tindak pertolongan pertama bila ia mengalami benturan atau perdarahan ialah berikan kompres dingin lalu istirahatkan kaki/tangan atau sendi yang bengkak.

awas hemofilia


Hemofilia atau penyakit gangguan pembekuan darah bawaan bisa menimbulkan kecacatan, bahkan kematian, pada penderitanya jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, gejala-gejala penyakit tersebut harus dikenali sejak dini agar penderita bisa segera mendapat pengobatan sehingga kualitas hidupnya bisa terjaga meski penyakitnya tidak bisa disembuhkan.
Hal itu disampaikan Endang Windiastuti, dokter spesialis anak dari Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, dalam diskusi yang diprakarsai Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI), Rabu (19/11), di Jakarta.
Diskusi itu dihadiri sejumlah pakar hematologi-onkologi sebagai pembicara di antaranya dr Aru W Sudoyo, dr Iswari Setianingsih, Prof Karmel L Tambunan, dan Prof Arry Haryanto Resodiputro. “Penyakit gangguan pembekuan darah ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang kurang mendapat perhatian serius,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat PHTDI Djumhana Atmakusuma.
Ada dua tipe hemofilia yaitu hemofilia A (kekurangan faktor antihemofilia atau faktor delapan) dan hemofilia B (kekurangan faktor christimas atau faktor sembilan). Secara epidemiologis, angka kejadian hemofilia A yaitu satu per 10.000 kelahiran bayi lelaki, jauh lebih tinggi dibanding hemofilia B. Jadi, dari 10 juta jiwa penduduk Jakarta diperkirakan ada seribu penderita hemofilia.
“Kurang lebih 80 persen dari penderita hemofilia mempunyai riwayat keluarga mengalami penyakit serupa. Perempuan merupakan pembawa sifat hemofilia,” ujar Endang. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan spontan dan sukar berhenti yang dapat terjadi di dalam sendi, otot maupun rongga tubuh lain. Hal ini bisa berakibat rasa nyeri dan terganggunya fungsi sendi.
Pada anak-anak, bisa berakibat perdarahan berlanjut, bahkan kematian usia dini. Peristiwa itu dapat diketahui ketika bayi mulai belajar merangkak. Perdarahan bisa terjadi terus-menerus setelah tindakan operasi ringan seperti cabut gigi, sirkumsisi atau sunat. “Lokasi paling sering terkena adalah, lutut, siku pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan,” ujarnya.
“Langkah awal penanganan jika terjadi perdarahan adalah, penderita harus segera beristirahat. Lokasi perdarahan dikompres es, ditekan atau dibebat, dan ditinggikan lokasinya,” kata Endang. Kemudian, perdarahan harus diobati dengan faktor pembekuan dalam waktu 2 jam setelah kejadian, vena dijaga dengan baik dan hindari pemakaian obat anti agregasi.
sumber : Evy Rachmawati pada http://kompas.com/read/xml/2008/11/19/22141417/waspadai.hemofilia.pada.anak..

hemofilia anak

Hemofilia

Anak sering kali terjatuh pada saat bermain, dan sering kali juga mengalami perdarahan akibat terjatuh.

Perdarahan yangterjadi umumnya ringan saja, seperti misalnya lecet di lutut atau di siku.

Pada perdarahan ada 3 faktor yang diperlukan oleh tubuh agar dapat menghentikan perdarahan tersebut, yaitu faktor pembuluh darah, faktor trombosit dan faktor koagulasi (pembekuan darah). Pada hemofilia yang terganggu adalah faktor koagulasi.

Apa itu hemofilia?

Seperti telah dikatakan sebelumnya, faktor pembekuan darah di dalam tubuh merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk menghentikan perdarahan bila terjadi luka.

Faktor pembekuan darah di dalam tubuh ada banyak jenisnya. Kekurangan salah satu faktor tersebut akan menimbulkan gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan darah sulit membeku sehingga terjadi perdarahan terus-menerus.

Hemofilia adalah salah satu jenis gangguan pembekuan darah yang disebabkan oleh karena tubuh kekurangan faktor pembekuan tertentu (faktor nomorVIII dan nomor IX). Hemofilia bersifat diturunkan (genetik) dan terkait dengan kromosom seks X resesif.

Biasanya pada anak laki-laki akan menunjukkan gejala, sedangkan pada perempuan ia membawa gen hemofilia (karier). Biasanya bila ibu mempunyai sifat membawa gen hemofilia, maka anak lakinya akan terkena hemofilia.

Untuk mendeteksi adanya gen hemofilia pada ibu, diperlukan pemeriksaan riwayat keluarga, analisis faktor pembekuan tersebut, dan analisis DNA. Meskipun perempuan karier (sehingga biasanya tidak menunjukkan gejala/asimptomatik), tetapi pada perempuan dengan kekurangan faktor tersebut yang sangat parah dapat juga menunjukkan gejala (simptomatik).

Hemofilia tipe A (kekurangan faktor VIII) terjadi pada 1 dari 5000 kelahiran laki-laki, sedangkan hemofilia tipe B (kekurangan faktor IX) terjadi pada 1 dari 30.000 kelahiran laki-laki.

Apa tanda dan gejala hemofilia pada anak?

Tanda dan gejala hemofilia pada anak tergantung dari derajat keparahan penyakit. Semakin tubuh kekurangan faktor-faktor pembekuan tersebut maka semakin parah gejala dan tanda yang dapat dilihat. Tanda dan gejala tersebut di antaranya adalah:
  1. Adanya perdarahan di sendi-sendi atau otot-otot, terutama pada saat anak mulai belajar berjalan atau merangkak.
  2. Perdarahan sering terjadi pada sendi lutut, yang dilihat sebagai pembengkakan sendi lutut.
  3. Perdarahan akibat luka yang sulit berhenti.
  4. Perdarahan dari luka sehabis sunat/sirkumsisi yang sulit berhenti.
  5. Kadang didapatkan darah yang keluar bersama air seni (hematuria).
Tanda dan gejala tersebut biasanya akan mulai terlihat pada saat anak sudah berusia 1 tahun, ketika anak sudah mulai bisa merangkak dan berjalan.

Apa terapi hemofilia dan berapa lama terapi diperlukan?

Hemofilia merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. Setelah dokter memastikan diagnosis hemofilia, maka dokter akan menentukan derajat keparahan penyakit dengan cara memeriksa kandungan faktor pembekuan VIII dan IX dalam tubuh.

Setelah itu dokter akan memberikan tambahan faktor-faktor pembekuan yang kurang tersebut (faktor rekombinan) secara berkala melalui infus. Kadang kala diperlukan juga infus plasma darah yang mengandung faktor VIII atau IX. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencegah terjadinya perdarahan.

Apakah hemofilia menular?

Hemofilia tidak menular. Menyentuh, berpelukan, berciuman dengan orang yang menderita hemofila tidak akan menyebabkan seseorang terkena hemofilia. Penyakit hemofilia bersifat diturunkan dari satu generasi ke generasi di bawahnya.

Tip
  • Hindari pemberian obat-obatan anti inflamasi non steroid seperti aspirin pada anak dengan hemofilia.
  • Beri dukungan pada anak dan katakan padanya bahwa hemofilia bukan merupakan sesuatu yang perlu ditakutkan.

Kesimpulan

  • Hemofilia merupakan gangguan pembekuan darah yang bersifat diturunkan (genetik).
  • Ada 2 jenis hemofilia yaitu hemofilia tipe A dan hemofilia tipe B. Hemofilia tipe A dikarenakan tubuh kekurangan faktor nomor VIII, sedangkan hemofilia tipe B dikarenakan tubuh kekurangan faktor nomor IX.
  • Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencegah terjadinya perdarahan terutama di sendi.

Minggu, 05 Desember 2010

obat-obatan jiwa


Macam-macam obat-obatan jiwa

1. Golongan Holusinogens

Halusinogen berasal dari kata halusinasi. Jadi obat-obatan jenis halusinogen ialah obat-obatan yang dapat mengacaukan fungsi mental tertentu, menimbulkan halusinasi, pikiran kacau, dan sebagainya. Di satu pihak efeknya bisa "euphoria" (perasaan amat senang), tetapi di pihak lain dapat juga mengakibatkan rasa takut, bingung, panik, dan sebagainya.
Jenis-jenis obat halusinogens yang dilarang beredar oleh keputusan Menteri Kesehatan a.l.:

  • Fenmetrazin (Preludin dan Obezine) yang biasanya digunakan untuk mengurangi berat badan. Penderita bisa kecanduan dan mengalami depresi.
  • LSD (Lysergic Acid Diethylamide, atau Delysid) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan badan (ataxia), kelumpuhan kaki tangan, perubahan genetik (mempengaruhi keturunannya), bahkan kematian

  





2. DOM dan STP dan THC (dari tanaman Canabis Sativa) 

yang seringkali disebut ganja (Indonesia), marihuana (USA, Eropa), bhang (Timur Tengah, India) atau hashis (Mesir). Dulu dipakai sebagai untuk pengobatan Mania. 



  






3. Sedatives and Hypnotics (penenang)


Pemakaian obat-obatan penenang biasanya untuk mengurangi rasa sakit, menimbulkan rasa mengantuk (hypnosis), tetapi dapat juga menyebabkan kelumpuhan kegiatan mental dan fisik. Obat-obatan ini biasanya dipakai untuk menolong orang-orang yang menderita tekanan jiwa, kecemasan dan kurang tidur. Pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan pingsan, dan kematian.
Yang termasuk dalam kelompok ini ialah:
    • narkotik: opium, morfin, demerol, methadone, heroin, codein.
    • barbiturates: phenobarbital, nembutal, seconal, dsb.
    • bromide: bromo-seltzer, potassium bromide, dsb.
    • alkohol.


  
  4. Stimulants (perangsang) 

Pemakaian obat-obatan perangsang akan merangsang pusat sistem syaraf manusia, menyebabkan timbulnya semangat, aktivitas yang naik, kepercayaan pada diri sendiri, dsb.; bahkan rasa senang dan bebas dari rasa lelah. Tetapi pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan "drugs addict", dan gangguan jantung, emosi yang tidak terkendali dan diikuti gejala-gejala paranoid. 
Yang termasuk dalam kelompok ini:
    • cocaine
    • amphetamines (benzedrine, dexedrine, methedrine, dsb.)
    • nicotine
    • caffeine




  5. Psycho-Therapeutics 
Obat-obatan ini dipakai untuk menolong gejala-gejala kejiwaan. Efeknya sama seperti sedatives.
Yang termasuk dalam kelompok ini ialah:
    • anti-psychotic: reserpine, chlorpromazine.
    • anti-anxiety: meprobamat, phenobarbital, dsb.; yang seringkali disebut juga tranquilizers.
    • anti-depresant: imipramine, tofrinal.